FGD PAR Menggali Hambatan Akses Layanan bagi Anak Cerebral Palsy

Program Magister Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah dan Komunikasi menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Participatory Action Research (PAR) pada Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung pukul 08.00–12.30 WIB di Ruang 112 Fakultas Dakwah dan Komunikasi. FGD ini diikuti oleh 13 orang tua dan anak dengan cerebral palsy yang tergabung dalam komunitas WKCP, serta pengelola WKCP. Kegiatan FGD PAR merupakan bagian dari proses penelitian kolaboratif yang melibatkan dosen dan mahasiswa. Kegiatan ini diketuai oleh Rofah, Ph.D., dengan keterlibatan mahasiswa Ulil Albab, Mafaza Azzahra, dan Dirga Wahyuri. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam penerapan pendekatan PAR yang menempatkan masyarakat dan kelompok yang mengalami persoalan sebagai subjek yang secara aktif terlibat dalam proses penggalian dan pemahaman masalah.

FGD dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif untuk memberikan ruang kepada peserta dalam menyampaikan pengalaman, kebutuhan, serta berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui diskusi bersama, peserta didorong untuk mengidentifikasi berbagai kesulitan dan hambatan yang muncul ketika anak dengan cerebral palsy dan keluarganya membutuhkan akses terhadap berbagai layanan.

Salah satu fokus utama diskusi adalah pengalaman peserta dalam memperoleh layanan kesehatan. Peserta berbagi pengalaman mengenai berbagai tantangan yang dihadapi, baik dalam memperoleh layanan, mendapatkan informasi yang dibutuhkan, maupun menyesuaikan layanan dengan kebutuhan anak. Pengalaman tersebut menjadi informasi penting untuk memahami kondisi nyata yang dihadapi keluarga dari perspektif mereka sendiri. Selain layanan kesehatan, FGD juga menggali hambatan dalam mengakses bantuan sosial dan layanan pendidikan. Peserta menyampaikan pengalaman dan pandangan mengenai berbagai kebutuhan, kendala, serta kondisi yang perlu mendapatkan perhatian agar layanan yang tersedia dapat lebih mudah diakses dan sesuai dengan kebutuhan anak serta keluarga. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bahan penting dalam memetakan persoalan secara lebih komprehensif.

Hasil FGD selanjutnya akan menjadi bagian dari proses PAR untuk mengidentifikasi persoalan prioritas, merumuskan kebutuhan, serta menyusun tindak lanjut secara kolaboratif bersama komunitas WKCP. Melalui pendekatan ini, kegiatan penelitian tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pemahaman akademik, tetapi juga diharapkan dapat menjadi proses bersama untuk mendorong penguatan akses dan kualitas layanan bagi anak dengan cerebral palsy dan keluarganya.