Visiting Professor: Prodi Magister Kesejahteraan Sosial Bahas Kesejahteraan Lansia di Brunei Darussalam

Program Studi Magister Kesejahteraan Sosial (MKS) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menerima kunjungan dua akademisi dari Universiti Brunei Darussalam, yaitu Evi Nurvidya Arifin, Senior Assistant Professor pada Centre for Advanced Research (CARe) dan Prof. Aris Ananta, Visiting Professor pada Centre for Advanced Research, Universiti Brunei Darussalam. Kegiatan bertajuk Visiting Professor tersebut dilaksanakan pada Senin, 24 Agustus 2026, pukul 14.00–16.00 WIB di Ruang Sidang Lantai 2 Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Pertemuan ini secara khusus membahas isu kesejahteraan lanjut usia (lansia) dan tantangan kebijakan dalam memastikan lansia dapat menjalani kehidupan yang layak dan bermartabat. Kegiatan dihadiri oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi sekaligus dosen MKS, Prof. Arif Maftuhin, serta dosen MKS Ro’fah, Ph.D., Muh. Ulil Absor, Ph.D. selaku Ketua Program Studi, Dr. Aryan Torrido, dan Muh. Izzul Haq, Ph.D. Kehadiran kedua akademisi dari Universiti Brunei Darussalam menjadi kesempatan bagi Prodi MKS untuk memperluas diskusi akademik mengenai perubahan demografi, penuaan penduduk, sistem perlindungan sosial, serta peran keluarga dan negara dalam memastikan kesejahteraan lansia.

Dalam pemaparannya, kedua narasumber menjelaskan kondisi kesejahteraan lansia di Brunei Darussalam yang didukung oleh sistem jaminan sosial negara yang relatif menyeluruh. Meskipun kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (low income) tetap ada, berbagai kebutuhan dasar masyarakat, termasuk lansia, mendapatkan dukungan negara. Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah pemberian insentif kepada anak atau anggota keluarga yang membantu merawat lansia. Kebijakan ini menunjukkan adanya upaya negara untuk memperkuat peran keluarga sekaligus memberikan dukungan ekonomi bagi mereka yang menjalankan fungsi perawatan terhadap anggota keluarga lanjut usia.

Aspek kesehatan juga menjadi bagian penting dalam pembahasan kesejahteraan lansia di Brunei Darussalam. Negara memberikan akses layanan kesehatan secara gratis bagi masyarakat, termasuk lansia yang membutuhkan perawatan medis. Bahkan, apabila kebutuhan pengobatan tertentu tidak dapat dipenuhi di dalam negeri, masyarakat dapat memperoleh fasilitas untuk mendapatkan layanan kesehatan di Singapura. Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana negara menempatkan akses kesehatan sebagai salah satu instrumen utama dalam menjamin kualitas hidup lansia, sekaligus memberikan perlindungan ketika kebutuhan perawatan mereka semakin kompleks seiring bertambahnya usia.

Diskusi kemudian berkembang pada pertanyaan mengenai bagaimana negara seharusnya merancang kebijakan agar lansia dapat hidup secara layak, mandiri, sehat, dan bermartabat. Para narasumber menekankan bahwa kebijakan lansia tidak cukup hanya berorientasi pada bantuan ekonomi atau pelayanan kesehatan, tetapi perlu melihat lansia sebagai bagian penting dari keluarga dan masyarakat. Dalam konteks Indonesia, dosen MKS turut berbagi perspektif mengenai praktik kesejahteraan berbasis kearifan lokal, khususnya kekuatan keluarga, komunitas, dan jejaring sosial dalam mendukung lansia. Pendekatan tersebut dinilai memiliki potensi penting karena lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat dan dapat melengkapi peran negara dalam penyelenggaraan kesejahteraan lansia.

Kegiatan Visiting Professor ini sekaligus menjadi momentum untuk menjajaki pengembangan kerja sama antara Prodi MKS dan Universiti Brunei Darussalam dalam bidang penelitian mengenai lansia dan kesejahteraan sosial, peluang beasiswa bagi dosen, serta pengiriman mahasiswa ke Brunei Darussalam. Pertemuan ini diharapkan dapat menjadi awal bagi kolaborasi akademik yang lebih luas dalam mengembangkan kajian tentang penuaan penduduk dan kesejahteraan lansia di Asia Tenggara. Melalui pertukaran pengalaman antara Indonesia dan Brunei Darussalam, Prodi MKS juga berupaya memperkuat perspektif regional dalam merumuskan pendekatan kesejahteraan lansia yang responsif terhadap perubahan demografi dan tetap memperhatikan peran keluarga serta kearifan lokal.